PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Melanjutkan inisiasi 4 mata kuliah perekonomian Indonesia, untuk versi document word, ada di artikel sebelumnya

John Madeley (2005), menyatakan bahwa para penganjur perdagangan bebas (liberalisasi perdagangan), yang mayoritas berasal dari pemerintah dan perusahaan besar di negara maju, beranggapan bahwa perdagangan bebas dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk dunia. Perdagangan bebas dipercaya dapat memberikan peluang bagi pemanfaatan terbaik atas berbagai sumber daya yang ada atas dasar teori keuntungan komparatif David Ricardo. Para penganut teori ini meyakini bahwa perdagangan bebas akan mendatangkan keuntungan dan kemakmuran bagi kaum kaya dan miskin dan negara miskin akan mendapatkan keuntungan lebih besar ketimbang negara yang tidak malakukan perdagangan.

Dihilangkannya hambatan-hambatan perdagangan dipercaya dapat meningkatkan efisiensi ekonomi, yang selanjutnya akan meningkatkan pendapatan produsen, menambah kepuasan konsumen, sehingga kesejahteraan semua pihak meningkat. Kebijakan proteksi seperti tarif (bea masuk) dianggap mendistorsi pasar karena telah menimbulkan ekonomi biaya tinggi. Mekanisme pasar diyakini mampu melakukan fungsi alokasi secara optimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, daripada harus melakukan intervensi negara yang justru mendistorsi pasar. Pera penganjur perdagangan bebas percaya bahwa dana yang diperoleh dari kegiatan ekspor impor pangan memungkinkan masyarakat membeli lebih banyak lagi pangan ketimbang yang mereka produksi sendiri.

Argumentasi para penganjur perdagangan bebas ini mendapat kritik (tantangan) dari banyak  pihak. Kenyataannya, perdagangan bebas telah mengakibatkan terjadinya dominasi ekonomi oleh perusahaan-perusahaan (korporat-korporat) besar multi/trans-nasional (MNC’s atau TNC’s) yang menguasai modal dan teknologi. Pasar bebas makin menguntungkan negara maju dengan korban di negara terbelakang atau sedang berkembang, yang telah dihisap kekayaan alamnya.

Perdagangan bebaas telah berubah menjadi perdagangan yang tidak adil karena diberlakukan pada negara-negara yang tingkat kemajuan ekonominya tidak berimbang. Pasar bebas telah mengancam kesejahteraan pelaku ekonomi rakyat, terutama petani di negara sedang berkembang,termasuk Indonesia.

Pada beberapa tahun terakhir, perekonomian dunia telah tumbuh dengan pesat sekaligus memainkan peranan yang besar dalam perekonomian global. Meningkatnya rasio ekspor terhadap produk domentik bruto (PDB) suatu negara merupakan salah satu indikator keterbukaan negara tersebut dalam perdagangan internasionalnya.

Terkait dengan masalah perdagangan luar negeri Indonesia (dalam hal ini masalah ekspor) maka perlu dicermati beberapa indikator seperti ‘Unit Value Index’ yang menggambarkan harga barang ekspor dan impor serta Term of Trade. Selain itu perlu dicermati pula daya saing ekspor Indonesia di lingkungan Asean dan Cina.

Keunggulan komparatif produk Indonesia terutama berasal dari komoditi yang berbahan baku lokal seperti hasil hutan, karet, coklat, kelapa sawait dan rempah-rempah. Kalau dibanding dengan Cina, mereka mempunyai keunggulan komparatif pada komoditi industri manufaktur dan industri kimia.

Sejalan dengan teori-teori yang berkaitan dengan integrasi ekonomi, liberalisasi perdagangan menjadi ujung tombak globalisasi ekonomi. Perkembangan perdagangan dunia memang sangat pesat sejak dibentuknya General Agreement on Trade and Tariff (GATT). Dimasukkannya sektor jasa dalam liberalisasi ekonomi dunia, sebagai implementasi General Agreement on Trade and Service (GATS), semakin menyudutkan posisi banyak negara berkembang termasuk Indonesia yang umumnya semakin lemah dalam sektor jasa.

Data menunjukkan ekspansi perdagangan terutama terjadi di negara maju. Konsentrasi perdagangan dunia masih berpusat di negara-negara Utara seperti Amerika Utara, dan Eropa Barat, sementara untuk negara Asia hanya dinikmati Jepang dan Cina. Liberalisasi perdagangan yang merupakan turunan dari globalisasi ekonomi, lebih banyak menimbulkan kerugian bagi negara berkembang.

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Perekonomian Indonesia dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s