Globalisasi Ekonomi Indonesia

3. Resistensi Terhadap Globalisasi Ekonomi

Globalisasi ekonomi yang dianggap merugikan negara miskin dan berkembang memicu berbagai gerakan untuk menentangnya. Awal 2004 gugatan sudah muncul dalam tiga forum internasional. Gugatan terhadap globalisasi dan perangkatnya tidak hanya datang dari negara berkembang, melainkan juga oleh negara yang berpendapatan menengah atas seperti negara-negara Amerika Latin.

Secara teoritik memang perdagangan bebas dunia akan dapat mendorong terjadinya peningkatan efisiensi melalui spesialisasi produk. Dalam perdagangan bebas dunia asumsi yang selalu didengungkan adalah bahwa semua negara dan pelaku ekonomi akan diuntungkan dari adanya keterbukaan ekonomi tersebut. Oleh karena itu berbagai hambatan perdagangan, baik itu yang berupa tarif yang tinggi (tarif barrier) maupun yang bukan tarif (non tariff barrier) seperti quota, larangan impor, lisensi dan sebagainya harus diminimalkan atau dihilangkan. Melalui WTO dan berbagai lembaga internasional hal itu selalu dijadikan tekanan untuk dilaksanakan.

Dalam realitas, pasar tidak bekerja seperti yang dinyatakan teori konvensional di atas. Menurut Shipman (2002:61-98) tidak ada satu negarapun yang menjadi kaya melalui terjadinya spesialisasi. Kekuatan-kekuatan besar yang dimiliki perusahaan raksasa dunia yang mengendalikan pasar yang akan memberikan keuntungan pada mereka. Globalisasi juga dikecam Shipman sebagai ‘Amerikanisasi’. Hal ini ditunjukkan dari menyebarnya perusahaan pengecer Amerika seperti bank-bank dan restauran di seluruh dunia.

Dalam bukunya ‘The No-nonsens Guide to Globalization’ (2001) Wayne Ellwood, mengecam globalisasi karena telah meningkatkan ketidakmerataan dan kemiskinan di seluruh dunia. Hal ini terjadi karena pemerintah sudah kehilangan kemampuannya untuk mengontrol strategi dan kebijakan pembangunannya. Oleh karena itu disarankan beberapa langkah konkret untuk mengatasi hal tersebut. Langkah-langkah tersebut antara lain adalah :

  1. Meningkatkan partisipasi warga negara melalui perombakan IMF.
  2. Mendirikan lembaga keuangan global yang baru
  3. Menghargai alam (honor the earth)

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Perekonomian Indonesia dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s