Krisis Ilmu Ekonomi

Masih inisiasi 7, dari MK Perekonomian Indonesia Materi Krisi Ilmu Ekonomi, lanjutan dari postingan sebelumnya

  1. Kegagalan Ilmu Ekonomi Konvensional
pict : merdeka.com

pict : merdeka.com

Dunia sedang mengalami masalah besar pasca berkembang pesatnya globalisasi ekonomi (pasar bebas). Ditengah arus kemajuan ekonomi terselip tanda-tanda krisis global yang inheren dalam kemajuan tersebut. Krisis tersebut meliputi makin parahnya degradasi moral (spiritualitas), makin lebarnya ketimpangan sosial ekonomi dan makin rusaknya sistem ekologis (lingkungan) penyangga kehidupan bumi. Krisis-krisis tersebut tidak lain adalah manifestasi kegagalan sistem ekonomi global dalam menyejahterakan manusia secara berkeadilan dan berkelanjutan. Di sisi lain, krisis tersebut merupakan refleksi kegagalan ilmu ekonomi konvensional yang menjadi pondasi berkembangnya  sistem ekonomi global.

Ilmu ekonomi yang mengedepankan pandangan rasionalisme, kompetitivisme, self interest, orientasi pertumbuhan dan profit maximization ini telah mendorong perebutan penguasaan sumber daya yang berujung pada eksploitasi satu negara terhadap negara lain beserta kekayaan alam (lingkungan)nya. Ilmu ini makin bias pada (kepentingan) negara maju (kaya) yang lebih memfokuskan perhatian pada ekonomi modern (usaha besar) sehingga mengabaikan perhatian pada pemecahan masalah-masalah riil yang dihadapi pelaku ekonomi rakyat. Bahkan teori-teori tentang ekonomi rakyat tidak dikembangkan karena asumsi pelaku produksi hanyalah perusahaan (besar). Ilmu ekonomi inipun dikembangkan secara positivistik, sehingga mengabaikan faktor-faktor kelembagaan sosial budaya dan nilai-nilai kerja sama, kebersamaan dan moralitas/etika lokal yang dimiliki ekonomi rakyat. Jelas ilmu ekonomi seperti ini makin tidak cocok untuk dikembangkan dan diterapkan di negra sedang berkembang seperti Indonesia.

 

2. Kebutuhan Ilmu Ekonomi Alternatif

Berbagai kritik mendasar terhadap ilmu ekonomi konvensional makin menunjukkan kebutuhan akan adanya ilmu ekonomi alternatif. Kebutuhan inipun telah dirasakan oleh pakar-pakar ekonomi di negara maju (Barat). Ini berkaitan dengan ditawarkannya mata kuliah pengantar ekonomi alternatif di fakultas ekonomi terkemuka di dunia, seperti di Harvard University. Asumsi dasar pengajaran ini bertolak belakang dengan yang diajarkan oleh ekonomi neo-klasik. Dengan menggunakan pendekatan psikologi, para ekonom ini menolak konsep homoekonomikus, yang selalu menganggap manusia bertindak rasional.

Letupan-letupan ketidakpuasan pada para ekonom konvensional itu, kemudian memunculkan berbagai konsep ilmu ekonomi alternatif, seperti Ekonomi kelembagaan (Kenneth Building), Ekonomika Strukturalis (Raul Prebisch), serta Ekonomi Islami yang digali oleh ekonom-ekonom muslim. Di Indonesia sejak awal 1980-an ketidakpuasan atas teori ekonomi konvensional itu sudah diwacanakan oleh Prof. Mubyarto dan kini dikembangkan melalui PUSTEP (Pusat Studi Ekonomi Pancasila) UGM.

Selanjutnya klik halan 2 

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Perekonomian Indonesia dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s